Friday, September 14, 2007

Andai kami tahu ini Ramadhan terakhir..

tentu siangnya kami sibuk berzikir
tentu kami tak akan jemu melagukan syair rindu
mendayu..merayu...kepada-NYA Allah Yang Satu

andai kami tahu ini Ramadhan terakhir..

tentu kami akan melaksanakan sholat di awal waktu
sholat yang dikerjakan...sungguh khusyuk lagi tawadhu'
tubuh dan qalbu...bersatu memperhamba diri
menghadap Rabbul Jalil... menangisi kecurangan janji
"innasolati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil 'alamin"
[sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku, dan matiku...
kuserahkan hanya kepada Allah Tuhan seru sekalian alam]

andai kami tahu ini Ramadhan terakhir..

tidak akan kami sia siakan walau sesaat yang berlalu
setiap masa tak akan dibiarkan begitu saja
di setiap kesempatan juga masa yang terluang
alunan Al-Quran bakal kami dendang...bakal kami syairkan

andai kami tahu ini Ramadhan terakhir..

tentu malam kami sibukkan dengan
bertarawih...berqiamullail...bertahajjud...
mengadu...merintih...meminta belas kasih
"sesungguhnya aku tidak layak untuk ke syurga-MU
tapi...aku juga tidak sanggup untuk ke neraka-MU"

andai kami tahu ini Ramadhan terakhir..

tentu kita tak akan melupakan mereka yang tersayang
mari kita meriahkan Ramadhan
kami buru...kami cari...suatu malam idaman
yang lebih baik dari seribu bulan

andai kami tahu ini Ramadhan terakhir..

tentu kami bakal menyediakan batin dan zahir
mempersiap diri...rohani dan jasmani
menanti-nanti jemputan Izrail
di kiri dan kanan ...lorong-lorong ridha Ar-Rahman

Duhai Ilahi....
andai ini Ramadhan terakhir buat kami
jadikanlah Ramadhan ini paling berarti...paling berseri...
menerangi kegelapan hati kami
menyeru ke jalan menuju ridho serta kasih sayangMu Ya Ilahi
semoga bakal mewarnai kehidupan kami di sana nanti


Namun teman...
tak akan ada manusia yang bakal mengetahui
apakah Ramadhan ini merupakan yang terakhir kali bagi diri kita
yang mampu bagi seorang hamba itu hanyalah
berusaha...bersedia...meminta belas-NYA

andai benar ini Ramadhan terakhir..

=MAAFKAN SEMUA KEKHILAFAN YANG PERNAH SAYA LAKUKAN =




SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH SHAUM

Sunday, September 09, 2007

Tantangan Umat yang Semakin Kompleks

Kompas. Sebagai bagian terbesar dari bangsa Indonesia, umat Islam masih menghadapi berbagai masalah pelik dalam bidang ekonomi dan sosial. Namun, tarikan politik terhadap umat justru lebih kuat daripada usaha untuk segera menyejahterakan mereka.

Diakui atau tidak, sebagian besar penghuni kolong jembatan tol, permukiman kumuh, dan desa-desa tertinggal adalah umat Islam.

Kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan berimbas pada kemunduran moral dan kualitas hidup mereka. Globalisasi yang menawarkan modernisasi sulit diikuti umat dan sering menempatkan mereka hanya sebagai penonton.

Gaya hidup konsumtif yang dibawa ideologi kapitalis dengan menumpang globalisasi juga menyergap umat. Kurangnya kemampuan untuk menyaring ide negatif dan buruknya teladan dari para elite membuat mereka makin terjebak dalam ketidakberdayaan.

Kesenjangan antara kaum mapan yang berlimpah sumber daya dan kaum papa yang turun temurun terjerat kemiskinan semakin lebar.

Dalam pemikiran keagamaan pun, berbagai aliran masuk bebas ke Indonesia tanpa adaptasi dengan nilai lokal, mulai dari aliran paling kanan hingga paling kiri. Semua berebut pengaruh untuk tampil sebagai pemikiran terbenar, semua mengklaim paling sesuai dengan ajaran Tuhan dan paling mungkin diterapkan.

Hal itu menambah kebingungan umat yang hampir tak pernah dipersiapkan untuk menghadapi keragaman pemikiran.

Di sisi lain, para elite politik dan kelompok agamawan terus mendesakkan pentingnya keluhuran susila. Moral dianggap menjadi kunci menuju kesejahteraan. Karena itu, moral umat harus diatur sedemikian rupa tanpa peduli moral diri sendiri.

Organisasi massa Islam yang semula didirikan untuk menyejahterakan umatnya juga mulai bergeser orientasinya. Mereka lebih suka membawa umat ke dalam masalah politik dan terjebak dalam rutinitas organisasi.

Sistem ekonomi ribawi

Dalam pandangan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang mengampanyekan konsep Khilafah Islamiyah, seluruh keterpurukan umat terjadi akibat tak dilaksanakannya syariat Islam secara penuh. Sistem dalam Islam hanya diambil sebagian sesuai keinginan mereka yang mengamalkannya.

Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto seusai diskusi Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan “Konferensi Khilafah Internasional 2007 dan Upaya Penegakan Khalifah” di Jakarta, pekan lalu, mengatakan, kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan yang dialami umat Islam saat ini akibat sekulerisasi yang terjadi dalam hampir seluruh kehidupan umat.

“Jika Indonesia ingin baik pada masa mendatang, tidak ada cara lain selain dengan khilafah. Selamatkan Indonesia dengan syariah,” ujarnya.

Khilafah Islamiyah adalah sistem politik tunggal yang menyatukan umat Islam di seluruh dunia—jumlahnya mencapai 1,4 miliar—yang perlu diatur dalam sebuah pemerintahan tunggal tanpa ada sekat negara.

Kemiskinan yang mendera umat, lanjut Ismail, terjadi akibat sistem ekonomi ribawi. Pertumbuhan ekonomi yang terjadi bukanlah pertumbuhan riil. Uang yang ada lebih banyak menumpuk di bank sentral daripada digunakan untuk menggerakkan dunia usaha.

Kapitalisme global, lanjutnya, harus dilawan dengan persatuan umat. Terpecahnya umat Islam dalam batas negara membuat mereka tak berdaya menghadapi segala konflik internal dan eksternal. Karena itu, umat harus disatukan di bawah penerapan hukum agama secara mutlak.

Lemahnya internalisasi

Mantan Ketua Umum Muhammadiyah Syafii Ma’arif menilai, kemiskinan yang dialami umat terjadi akibat lemahnya internalisasi nilai Islam yang sebenarnya oleh penganutnya sendiri. Umat lebih peka terhadap persoalan susila daripada masalah sosial. Rendahnya kepedulian terhadap sesama membuat kemiskinan yang dialami umat Islam Indonesia sulit diatasi.

Secara terpisah, Ketua Pusat Kajian Islam dan Negara Universitas Paramadina Yudi Latif menilai, kemiskinan yang terjadi dapat memunculkan individu yang radikal. Bagi kelompok menengah atas dan terdidik, terhambatnya proses mobilisasi vertikal akibat mandeknya ekonomi dapat menyuburkan fundamentalisme dan perlawanan ideologis terhadap sistem yang berlaku.

Sedangkan bagi kelompok masyarakat berpendidikan rendah, radikalisme akan muncul dalam bentuk fantasi hadirnya “Sang Ratu Adil”. Figur ini dapat muncul dari elite bangsa yang dianggap mampu memberi solusi.

Tetapi, saat elite yang dapat menjadi panutan masyarakat tak muncul, masyarakat mengidealisasikannya dengan syariat. Penerapan syariat dianggap sebagai solusi pembebasan diri dari ketersisihan. Kondisi ini sering dimanfaatkan elite tertentu dengan menggeneralisasi pandangan masyarakat terhadap syariat demi kepentingan pribadi.

Kondisi ini, lanjut Yudi, kurang mampu disikapi oleh organisasi massa Islam. Selama 1,5 abad terakhir, ormas Islam di Indonesia lebih intensif untuk memperluas gerakan sosial politik dan dakwah mereka. Infrastruktur ilmu pengetahuan tak berkembang. Akibatnya, umat Islam kurang memahami substansi pemikiran Islam yang ada. “Setiap muncul tantangan baru dalam interpretasi agama, muncul reaksi yang berlebihan,” kata Yudi.

Terlambat

Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Azyumardi Azra dalam Konferensi Nasional “Islam, Good Governance, dan Pengentasan Kemiskinan” di Jakarta, 27 Agustus lalu, menilai, organisasi massa Islam besar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, terlambat dalam menyikapi kemiskinan umatnya.

NU dan Muhammadiyah justru terperangkap dalam struktur pengelolaan organisasi besar. Akibatnya, mereka lambat untuk merespons permasalahan aktual yang dihadapi anggotanya.

“Ormas Islam cenderung mengalami stagnasi, khususnya dalam program advokasi untuk pemberdayaan sosial,” kata Azyumardi.

Karena itu, ormas Islam perlu memiliki visi sosial baru agar mampu menjawab kebutuhan umat. Dakwah yang disampaikan harus lebih komprehensif dan inklusif, alias dakwah yang mencerahkan.

Menurut Yudi, kemiskinan dan ketertindasan merupakan produk murni dari kapitalisme. Kemiskinan bukanlah produk kebencian dari agama lain. Kemiskinan tidak mengenal agama, ras, maupun bangsa.

Karena itu, kemiskinan tidak bisa diselesaikan dengan kebencian terhadap kelompok agama lain. Justru kerja sama antarkelompok agama harus dilakukan untuk menggalang semangat menghadapi globalisasi budaya massa.

“Saat negara dan pasar tak bisa diandalkan untuk menjadi penyangga masyarakat, maka komunitas agama yang seharusnya mengambil peran,” ujar Yudi.

Terobosan harus segera dilakukan untuk segera menyelamatkan umat dari bayang-bayang formalisasi dan politisasi agama yang dianggap mampu menyelesaikan seluruh masalah umat.

Agama hanya memberikan panduan dan arah dalam membangun masyarakat. Namun, masyarakat sendirilah yang harus mengambil inisiatif strategis untuk memuliakan dirinya sendiri berdasarkan panduan tersebut.

Azyumardi menilai, politisasi agama hanya akan membuat umat lupa akan masalah riil yang harus dihadapi. Masalah aktual umat tidak dapat diselesaikan dengan gagasan ilusif.

“Seolah-olah dengan syariat semua masalah sosial akan selesai, padahal tak sesederhana itu,” katanya.

Politisasi agama juga hanya akan mereduksi nilai-nilai agama itu sendiri. Sebab, agama dan politik sering kali menjadi hal yang bertentangan. Agama yang mengutamakan moral dan toleransi harus berhadapan dengan politik yang memandang segala sesuatu sebagai teman dan lawan.

“Agama seharusnya kembali berperan seperti saat diwahyukan, sebagai titik temu moral bersama,” kata Yudi.

Ketua Umum Pengurus Besar NU KH Hasyim Muzadi berpendapat, agama harus mampu menjawab persoalan bangsa. Jika kehadiran agama hanya menimbulkan perselisihan dan konflik, agama hanya akan menjadi masalah yang mengganggu negara.

Formalisasi atau politisasi agama hanya akan menimbulkan perpecahan bangsa. Dalam ruang publik bersama, nilai-nilai universal agamalah yang harus tampil, yaitu cinta keadilan, penebar kasih sayang, antikekerasan, membawa kedamaian, dan peduli kesejahteraan umatnya.

Monday, August 27, 2007

menambah income lewat browsing

Sebulan bisa dapat duit $63.00
Cuman modal waktu 5 menitan buat browsing saban ari.
caranya daftar dulu ke http://bux.to/?r=begin_bastiar
Bux bakal ngasih duit buat setiap iklan yang low liat.
(buat lebih lanjutnya baca "How does it work" di FAQ buat info lebih lengkapnya).

Trus jangan lupa, low daftar ke https://www.paypal.com
Waktu paypal nanya soal kredit card low pilih aja yang cancel.

Kalau duit low udah ngumpul, minimal $10 low cairin aja lewat paypal (karena bux baru bisa nyairin lewat paypal aja).
Gunain tuh duit buat belanja di internet.
Mayan khan.

Monday, May 30, 2005

Beberapa Alasan Untuk Tidak Memakai Produk Microsoft


Tak dapat dipungkiri bahwa Microsoft Windows adalah sistem operasi yang paling populer. Bisa dibilang lebih dari 90% komputer menggunakan sistem operasi yang satu ini. Sedangkan aplikasi yang paling populer yang dijalankan pada Windows adalah Microsoft Office.

Kedua produk tersebut adalah buatan Microsoft dan amat sangat populer. Namun apakah yang populer adalah yang terbaik? Menurut saya belum tentu. Berikut adalah beberapa alasan untuk menolak menggunakan produk-produk Microsoft pada komputer anda.

Produk Microsoft Sangat Mahal Jika Dibeli Secara Legal

Dari situs
Bhineka.com saya mengetahui bahwa Microsoft Windows XP Home Edition dijual dengan harga $198, Microsoft Windows XP Professional dengan harga $295 dan Microsoft Office 2003 dijual seharga $362. Jika anda berpikir bahwa harga tersebut sangat mahal, silakan lihat harga perangkat lunak untuk server, harganya bisa puluhan kali lipat perangkat lunak untuk workstation! Sebagai contoh, Windows Server Enterprise 2003 dihargai sebesar $3585.

Seluruh perangkat lunak tersebut bisa didapatkan secara OEM, artinya dibeli bersama-sama dengan perangkat keras. Dengan cara demikian, anda memang akan mendapatkan potongan harga, tetapi tidaklah sebanding dengan harga yang ditawarkan kompetitor. Perlu diketahui juga bahwa harga-harga tersebut berlaku pada satu komputer. Anda tidak dapat membeli satu perangkat lunak untuk diinstal ke beberapa komputer.

Bandingkan dengan distribusi sistem operasi FLOSS seperti
Fedora Linux atau SuSE Linux yang bisa didapatkan hanya dengan membayar ongkos duplikasi. Tak jarang, perangkat lunak FLOSS bisa didapatkan dengan harga kurang dari Rp 100 ribu (ini sudah sangat mahal di pasaran). Dan semuanya legal, bahkan jika anda menggunakan satu kopi pada beberapa komputer sekaligus. Jika pun anda memasukkan ongkos dukungan teknis, saya yakin harganya tidak akan mendekati harga yang ditawarkan oleh Microsoft.

Aplikasi Yang Disertakan Sedikit

Jika anda telah menginstal sistem operasi Microsoft Windows, apa yang dapat anda lakukan? Berlatih untuk menjadi MCSE? :) Tentu saja tidak, anda harus menginstal berbagai macam aplikasi-aplikasi produktivitas semacam
Microsoft Office sebelum anda bisa produktif menggunakan komputer anda.

Sebagai Perbandingan, sebuah distribusi Linux biasanya sudah menyertakan aplikasi-aplikasi produktivitas seperti OpenOffice dan The Gimp. Pada kebanyakan kasus, anda tidak perlu lagi mendownloadnya dari Internet atau bahkan membelinya.

Keamanan Memakai Komputer Kurang Memadai

Dengan memakai sistem operasi Microsoft Windows, sudah menjadi tradisi bahwa anda akan dihadapi dengan berbagai macam masalah seperti trojan, virus, worm atau spyware.

Permasalahan seperti ini akan sangat jarang anda temukan bila anda menggunakan sistem operasi Linux. Jumlah pemakai Linux yang jauh lebih sedikit daripada Windows memang adalah salah satu faktor yang berkontribusi, tetapi faktor yang lebih menentukan adalah bahwa sistem operasi Linux bersifat OpenSource. Artinya semua orang dapat melihat cara kerja sistem operasi sehingga jika ditemukan suatu kelemahan akan dapat diperbaiki dengan relatif cepat. Sebagai perbandingan, kelemahan keamanan pada Windows terkadang dibiarkan begitu saja selama berbulan-bulan.

Dengan bermigrasi ke Linux, anda akan menghemat biaya-biaya yang harus anda keluarkan jika anda menggunakan Windows. Misalnya: biaya perangkat lunak antivirus, ongkos yang dikeluarkan oleh tim helpdesk, serta sumber daya komputer dan bandwidth Internet yang terbuang percuma akibat berbagai macam masalah pada sistem operasi Windows.

Terlalu Banyak Pembatasan-Pembatasan

Microsoft Windows XP Home Edition hanya dapat diakses oleh maksimum 10 buah komputer lainnya dalam satu saat. Microsoft Windows Server 2003 hanya memiliki misalnya 25 CAL, untuk menambahnya, anda harus membeli CAL tambahan. Lisensi Windows mengharamkan penyewaan komputer. Dan sebagainya dan sebagainya.

Pada sistem operasi Linux, limitasi-limitasi buatan seperti itu tak akan ditemukan. Anda dapat menginstal Linux dari satu keping CD ke beberapa komputer sekaligus. Anda dapat mengakses server Linux tanpa batasan selain dari batasan perangkat keras server tersebut. Dengan demikian anda dapat berkonsentrasi mengembangkan sistem anda tanpa perlu harus berpikir mengenai limitasi-limitasi artificial tersebut.

Memang ada distribusi Linux yang menerapkan batasan-batasan tersebut. Namun akan ada distribusi Linux lainnya yang menghilangkan batasan-batasan yang bersangkutan. Sebagai contoh, lisensi sistem operasi RedHat Enterprise Linux hanya dapat diinstal pada sebuah komputer saja. Namun ada beberapa distribusi lainnya yang bisa dibilang sama persis, tetapi menghilangkan batasan-batasan tersebut, misalnya Centos atau Whitebox Linux.

***

Bermigrasi dari Windows ke Linux (atau sistem operasi Open Source lainnya) memang bukan hal yang mudah, murah dan bisa dikerjakan dalam satu malam. Tetapi saya yakin, dalam jangka panjang hal ini akan menguntungkan, terutama pada instansi yang membutuhkan pemakaian komputer secara ektensif, misalnya pada perusahaan besar, usaha kecil menengah, warnet, atau organisasi pemerintahan.

Jika anda belum berpikir untuk bermigrasi, maka pikirkanlah dari sekarang. Jika anda sudah berpikir tapi belum melakukan migrasi, mulailah proses migrasi anda.

(Kopi paste dari webnya mas Priyadi)